Mostrando las entradas con la etiqueta TAZKIRAH. Mostrar todas las entradas
Mostrando las entradas con la etiqueta TAZKIRAH. Mostrar todas las entradas

7.10.09

Gempa dan Ayat-Ayat Allah Swt



Segala sesuatu kejadian di muka bumi merupakan ketetapan Allah Swt. Demikian pula dengan musibah bernama gempa bumi. Hanya berseling sehari setelah kejadian, beredar kabar—di antaranya lewat pesan singkat—yang mengkaitkan waktu terjadinya musibah tiba gempa itu dengan surat dan ayat yang ada di dalam kitab suci Al-Qur’an.

“Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qur’an!” demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qur’an dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Ini tentu sangat menarik.

Gaya hidup bermewah-mewah seolah disimbolisasikan dengan acara pelantikan anggota DPR yang memang WAH. Kedurhakaan bisa jadi disimbolkan oleh tidak ditunaikannya amanah umat selama ini oleh para penguasa, namun juga tidak tertutup kemungkinan kedurhakaan kita sendiri yang masih banyak yang lalai dengan ayat-ayat Allah atau malah menjadikan agama Allah sekadar sebagai komoditas untuk meraih kehidupan duniawi dengan segala kelezatannya (yang sebenarnya menipu).

Dan yang terakhir, terkait dengan “Fir’aun dan para pengikutnya”, percaya atau tidak, para pemimpin dunia sekarang ini yang tergabung dalam kelompok Globalis (mencita-citakan The New World Order) seperti Dinasti Bush, Dinasti Rotschild, Dinasti Rockefeller, Dinasti Windsor, dan para tokoh Luciferian lainnya yang tergabung dalam Bilderberg Group, Bohemian Groove, Freemasonry, Trilateral Commission (ada lima tokoh Indonesia sebagai anggotanya), sesungguhnya masih memiliki ikatan darah dengan Firaun Mesir (!).
David Icke yang dengan tekun selama bertahun-tahun menelisik garis darah Firaun ke masa sekarang, dalam bukunya “The Biggest Secret”, menemukan bukti jika darah Firaun memang menaliri tokoh-tokoh Luciferian sekarang ini seperti yang telah disebutkan di atas. Bagi yang ingin menelusuri gais darah Fir’aun tersebut hingga ke Dinasti Bush, silakan cari di www.davidicke.com (Piso-Bush Genealogy), dan ada pula di New England Historical Genealogy Society.

Nah, bukan rahasia lagi jika sekarang Indonesia berada di bawah cengkeraman kaum NeoLib. Kelompok ini satu kubu dengan IMF, World Bank, Trilateral Commission, Round Table, dan kelompok-kelompok elit dunia lainnya yang bekerja menciptakan The New World Order. Padahal jelas-jelas, kubu The New World Order memiliki garis darah dengan Firaun. Kelompok Globalis-Luciferian inilah yang mungkin dimaksudkan Allah Swt dalam QS. Al Anfaal ayat 52 di atas. Dan bagi pendukung pasangan ini, mungkin bisa disebut sebagai “…pengikut-pengikutnya.”

Dengan adanya berbagai “kebetulan” yang Allah Swt sampaikan dalam musibah gempa kemarin ini, Allah Swt jelas hendak mengingatkan kita semua. Apakah semua “kebetulan” itu sekadar sebuah “kebetulan” semata tanpa pesan yang berarti? Apakah pesan Allah Swt itu akan mengubah kita semua agar lebih taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Atau malah kita semua sama sekali tidak perduli, bahkan menertawakan semua pesan ini sebagaimana dahulu kaum kafir Quraiys menertawakan dakwah Rasulullah Saw? Semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Wallahu’alam bishawab. oleh; (Ridyasmara)
READ MORE - Gempa dan Ayat-Ayat Allah Swt

6.10.09

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal


Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa-puasa sunnah. Sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, …” (Hadits hasan shohih, riwayat Tirmidzi). Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhori: 6502)

Puasa Seperti Setahun Penuh
Salah satu puasa yang dianjurkan/disunnahkan setelah berpuasa di bulan Romadhon adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/138, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya yaitu puasa enam hari di bulan Syawal adalah suatu hal yang dianjurkan.” (HR. Muslim no. 1164). Dari Tsauban, Rosululloh
Dilakukan Setelah Iedul Fithri
Puasa Syawal dilakukan setelah Iedul Fithri, tidak boleh dilakukan di hari raya Iedul Fithri. Hal ini berdasarkan larangan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Umar bin Khothob, beliau berkata, “Ini adalah dua hari raya yang Rosululloh melarang berpuasa di hari tersebut: Hari raya Iedul Fithri setelah kalian berpuasa dan hari lainnya tatkala kalian makan daging korban kalian (Iedul Adha).” (Muttafaq ‘alaih)
Apakah Harus Berurutan ?
Imam Nawawi rohimahulloh menjawab dalam Syarh Shohih Muslim 8/328: “Afdholnya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Iedul Fithri. Namun jika ada orang yang berpuasa Syawal dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, maka dia masih mendapatkan keuatamaan puasa Syawal berdasarkan konteks hadits ini”. Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah, maupun di akhir bulan Syawal. Sekalipun yang lebih utama adalah bersegera melakukannya berdasarkan dalil-dalil yang berisi tentang anjuran bersegera dalam beramal sholih. Sebagaimana Allah berfirman, “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Al Maidah: 48). Dan juga dalam hadits tersebut terdapat lafadz ba’da fithri (setelah hari raya Iedul Fithri), yang menunjukkan selang waktu yang tidak lama.
Mendahulukan Puasa Qodho’
Apabila seseorang mempunyai tanggungan puasa (qodho’) sedangkan ia ingin berpuasa Syawal juga, manakah yang didahulukan? Pendapat yang benar adalah mendahulukan puasa qodho’. Sebab mendahulukan sesuatu yang wajib daripada sunnah itu lebih melepaskan diri dari beban kewajiban. Ibnu Rojab rohimahulloh berkata dalam Lathiiful Ma’arif, “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Romadhon, hendaklah ia mendahulukan qodho’nya terlebih dahulu karena hal tersebut lebih melepaskan dirinya dari beban kewajiban dan hal itu (qodho’) lebih baik daripada puasa sunnah Syawal”. Pendapat ini juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Mumthi’. Pendapat ini sesuai dengan makna eksplisit hadits Abu Ayyub di atas.
Semoga kebahagiaan selalu mengiringi orang-orang yang menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Wallohu a’lam bish showab.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
READ MORE - Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

2.9.09

Solat Terawih: Sejarah - Hukum - Kaifiat

Alhamdulillah, bulan Ramadhan kembali menemui kita. Banyak ilmu yang perlu kita ulangkaji berkenaan amalan-amalan di dalam bulan Ramadhan, agar kita dapat memperoleh manfaat dan ganjaran yang sepenuhnya pada bulan yang mulia ini.
Risalah ringkas ini akan membincangkan tentang “Solat Terawih” dan perkara yang berhubung kait dengannya...........untuk seterusnya sila ke Galery ilmu abi arwa klik sini
READ MORE - Solat Terawih: Sejarah - Hukum - Kaifiat

29.8.09

Berbuka Puasa Mengikut Sunnah

oleh : Mohd Yaakub bin Mohd Yunus
Sumber: Buletin Al-Khadeem


Rasulullah s.a.w telah mengajar umatnya beberapa adab yang perlu diberi perhatian ketika berbuka puasa. Antara adab-adab itu ialah:

a. Membaca doa yang thabit daripada Nabi s.a.w.

Ibn ‘Umar r..a berkata: “Apabila berbuka puasa, Nabi s.a.w akan membaca: Hilanglah
segala kehausan, segala urat-urat telah basah dan semoga tetaplah beroleh pahala.

(Dzahabaz zhoma u wabtallatil ‘uruuqu wa thabatal ajru insyaallah) – Hadis riwayat Abu Dawud, no: 2010.

Abdullah Ibn ‘Umar r.a berkata: “Apabila berbuka puasa bacalah: Ya Allah!
sesungguhnya aku memohon rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau
mengampunkan aku. (Allahumma inni as aluka birahmatikal lati wasi’ta kulla syai in
an taghfirali)” - Hadis riwayat Ibn Majah, no: 1743.

Di samping doa-doa di atas, kita juga boleh berdoa apa sahaja yang dihajati kerana di
antara waktu yang mustajab (makbul) untuk berdoa adalah ketika berbuka puasa. Sabda Rasulullah s.a.w :

“Sesungguhnya doa yang tidak ditolak bagi orang berpuasa itu ialah ketika dia berbuka..”
– Hadis riwayat Ibn Majah, hadis no: 1743.

b. Menyegerakan Berbuka Puasa.

Disunnahkan juga kita menyegerakan berbuka puasa. Waktu paling afdal ialah ketika
matahari mula terbenam atau dilaungkan azan Maghrib. Utamakan berbuka dari sibuk
berzikir, membaca al-Quran atau ibadah lain kerana perintah Nabi s.a..w. Rasulullah s.a.w bersabda:

“Manusia akan sentiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka sentiasa menyegerakan berbuka puasa.” – Hadis riwayat al-Bukhari. no: 1957.

Di dalam sebuah hadis qudsi, Allah S.W.T telah berfirman:

“Sebaik-baik hamba-ku menurut pandangan-Ku ialah orang yang menyegerakan berbuka puasa.” - Hadis riwayat al-Tirmizi. no: 636.

c. Berbuka Puasa Dengan Buah Rutab, Tamar Atau Air.

Rutab adalah buah kurma yang masak dan tidak dikeringkan. Ia lembut dan manis. Tamar pula adalah buah kurma yang telah dikeringkan sebagaimana yang banyak terjual di pasaran.

Berbuka puasa dengan buah rutab, tamar atau air merupakan sunnah Nabi s.a.w. Anas bin Malik r.a berkata:

“Rasulullah s.a.w berbuka puasa sebelum solat (Maghrib) dengan rutab. Jika tiada
rutab, baginda akan berbuka dengan tamar dan jika tiada tamar, baginda akan meneguk beberapa teguk air.” - Hadis riwayat Imam al-Tirmizi, no: 632.

d. Bersegera Mengerjakan Solat Maghrib.

Hadis di atas tidak menafikan bahawa Rasulullah s.a.w juga menyegerakan solat
Maghrib setelah berbuka puasa dengan rutab, tamar atau air. Namun, sekiranya makanan malam telah terhidang disunnahkan menjamah makan malam terlebih dahulu walaupun solat telah didirikan. Setelah selesai menikmati hidangan, bersegeralah mengerjakan solat Maghrib. Sabda Rasulullah s.a.w:

“Apabila seseorang dihidangkan makan malam sedangkan solat (jemaah) telah
didirikan, utamakan makan malam. Janganlah seseorang itu tergopoh-gapah menghabiskan makanan itu sehinggalah dia selesai dalam keadaan tenang.” - Hadis riwayat al-Bukhari, no: 674.

Menurut Imam al-Nawawi r.h di dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim, jilid 4, muka
surat 208: “Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya
makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan
kesempurnaan khusyuk.”

e. Berbuka Puasa Secara Sederhana.

Firman Allah S.W.T:
“Wahai Bani Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah setiap kali kamu ingin ke tempat ibadat (mengerjakan solat) dan makan minumlah serta janganlah kamu melampau. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” – Surah al-A’raaf : 31

Perlu diingatkan bahawa janganlah waktu berbuka puasa dijadikan medan untuk
kita melepas geram kerana sehari suntuk tidak menjamah makanan atau minuman.
Sewajarnya, ibadah puasa dijadikan medan untuk melatih jiwa seorang muslim yang
bertakwa lagi penyabar direalisasikan ketika berbuka puasa dengan memakan makanan pada kadar yang tidak berlebihan. Sabda Nabi s.a..w:

“Anak adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya.
Cukuplah bagi anak adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberi kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak mustahail (boleh dilakukan), suaplah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan.”
- Hadis riwayat al-Tirmizi no: 2302.

f. Menjamu Makanan Untuk Berbuka Bagi Orang Berpuasa.

Sesungguhnya Islam menganjurkan umatnya mengadakan majlis berbuka puasa untuk menjamu makan bagi mereka yang berpuasa. Firman Allah S.W.T:

“Mereka juga memberi makan sebarang makanan yang dihajati dan disukainya
kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (sambil berkata dengan lidah atau hati):

Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu semata-mata kerana Allah dan kami langsung tidak inginkan sebarang balasan daripada kamu atau ucapan terima kasih.”-Surah al-Insaan: 8-9.

Menjamu makan untuk berbuka puasa telah dijanjikan dengan ganjaran pahala yang
begitu besar. Semakin ramai jumlah orang yang dijamu makan, semakin tinggilah jumlah gandaan pahalanya. Sabda baginda s.a.w:

“Sesiapa yang menjamu makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, pahalanya
sama seperti pahala orang yang berpuasa, iaitu pahala orang yang berpuasa yang tidak
dikurangkan walau sedikit.” - Hadis riwayat al-Tirmizi no: 735.
READ MORE - Berbuka Puasa Mengikut Sunnah

10.8.09

Kalau ALLAH itu Maha Baik, Mengapa Buat Neraka?



Oleh : Amin Fadzlan


Ini kisah benar..kisah seorang gadis Melayu, beragama Islam, tapi cetek pengetahuan tentang agama. Ceritanya begini, di sebuah negeri yang melaksanakan dasar 'Membangun Bersama Islam', kerap kali pihak berkuasa tempatan menjalankan pemeriksaan mengejut di premis-premis perniagaan dan kompleks beli-belah, untuk memastikan para pekerja di premis berkenaan menutup aurat.

Aku tak pasti berapa jumlah denda yang dikenakan sekiranya didapati melakukan kesalahan, tapi selalunya mereka akan diberi amaran bagi kesalahan pertama, dan didenda jika didapati masih enggan mematuhi garis panduan yang ditetapkan. Lazimnya dalam setiap operasi sebegini, seorang ustaz ditugaskan bersama dengan para pegawai pihak berkuasa tempatan. Tugasnya adalah untuk menyampaikan nasihat secara berhemah, kerana hukuman dan denda semata-mata tidak mampu memberi kesan yang mendalam.

Dalam satu insiden, ketika operasi yang dijalankan sekitar 2005, seorang gadis yang bekerja di salah satu lot premis perniagaan di Pasaraya Billion telah didapati melakukan kesalahan tidak menutup aurat. Maka dia pun kena denda la...setelah surat saman dihulurkan oleh pegawai PBT, ustaz ni pun bagi la nasihat, "..lepas ni diharap saudari insaf dan dapat mematuhi peraturan..peratura n ni bukan semata-mata peraturan
majlis perbandaran, tapi menutup aurat ni termasuk perintah Allah. Ringkasnya, kalau taat segala perintahNya, pasti Dia akan membalas dengan nikmat di syurga..kalau derhaka tak nak patuhi perintahNya, takut nanti tak sempat bertaubat, bakal mendapat azab di neraka Allah. Tuhan Maha Penyayang, Dia sendiri tak mahu kita campakkan diri ke dalam neraka..."

Gadis tersebut yang dari awal mendiamkan diri,tiba-tiba membentak "Kalau Tuhan tu betul-betul baik, kenapa buat neraka? Kenapa tak boleh sediakan syurga je? Macam tu ke Tuhan Maha Penyayang?" Mungkin dari tadi dia dah panas telinga, tak tahan dengar
nasihat ustaz tu..dah la hati panas kena denda sebab dia tak pakai tudung..

Ustaz tu terkedu sekejap. Bahaya budak ni. Kalau dibiarkan boleh rosak akidah dia. Setelah habis gadis tu membebel, ustaz tu pun jawab:"Dik, kalau Tuhan tak buat neraka, saya tak jadi ustaz. Berapa sen sangat gaji saya sekarang. Baik saya jadi tokey judi, atau bapa ayam.. hidup senang, lepas mati pun tak risau sebab gerenti
masuk syurga... Mungkin awak ni pun saya boleh culik dan jual jadi pelacur. Kalau awak nak lari, saya bunuh je. Takpe, sebab neraka tak ada. Nanti kita berdua jumpa lagi kat syurga..Kan Tuhan tu baik?"

Gadis tu terkejut. Tergamak seorang ustaz cakap macam tu? Sedang dia terpinga-pinga dengan muka confused, ustaz tu pun jelaskan: "perkara macam tadi akan berlaku kalau Tuhan hanya sediakan syurga. Orang baik,orang jahat, semua masuk syurga..maka apa guna jadi orang baik? Jadi orang jahat lebih seronok. Manusia tak perlu lagi diuji sebab semua orang akan 'lulus' percuma. Pembunuh akan jumpa orang yang dibunuh dalam syurga..perogol akan bertemu lagi dengan mangsa rogol di syurga..lepas tu boleh rogol lagi kalau dia nak..takde siapa yang terima hukuman. Sebab Tuhan itu 'baik'. Adakah Tuhan macam ni yang kita nak? Awak rasa, adil ke?"; tanya ustaz.

"Ah...mana adil macam tu. Orang jahat takkan la terlepas camtu je.." rungut si gadis.

Ustaz tersenyum dan menyoal lagi: "Bila tuhan tak adil, boleh ke dianggap baik?"

Gadis tu terdiam.

Ustaz mengakhiri kata-katanya:"Adik, saya bagi nasihat ni kerana kasih sesama umat Islam. Allah itu Maha Penyayang, tapi Dia juga Maha Adil. Sebab tu neraka perlu wujud. Untuk menghukum hamba-hambaNya yang derhaka, yang menzalimi diri sendiri dan juga orang lain. Saya rasa awak dah faham sekarang. Kita sedang diuji kat atas dunia ni. Jasad kita bahkan segala-galanya milik Allah, maka bukan HAK kita untuk berpakaian sesuka hati kita. Ingatlah; semuanya dipinjamkan olehNya, sebagai amanah dan ujian..semoga kita dapat bersabar dalam mentaati segala perintahNya, untuk kebaikan diri kita jugak.

Assalamu'alaikum. "
READ MORE - Kalau ALLAH itu Maha Baik, Mengapa Buat Neraka?

29.7.09

KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata,
ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
SILA BUKA
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan." Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku." Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu. Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."

Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.
READ MORE - KISAH LIMA PERKARA ANEH
 

Salam persahabatan Sila masukkan maklumat anda

Name
Email
No.Tel

Acerca de mí

Mi foto
Marang, Terengganu, Malaysia

Followers

Grey Floral ©  Copyright by abi arwa's blog.com | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks